Apa yang
terlintas di benak kita ketika mendengar kata Cross-Culture Understanding?
secara otomatis akan timbul pertanyaan seperti “ apa itu Cross-Culture
Understanding?”, “ Bagaimana mempelajari Cross-Culture Understanding
itu?”. Nah, disini saya akan sedikit mengupas tentang Cross Culture
Understanding.
Berdasarkan
apa yang saya pelajari di bangku perkuliahan, Cross-Culture Understanding (CCU)
atau Pemahaman Lintas Budaya adalah sebuah studi untuk mempelajari dan memahami
kebudayaan atau kebiasaan antar negara yang berbeda, yang bertujuan untuk
mendapatkan pemahaman atas perbedaan budaya dan kebiasaan dari negara tersebut.
Mempelajari
CCU sangat penting dan sangat berguna bagi kita yang ingin melanjutkan studi,
bekerja atau hanya sekedar berwisata keluar negeri. kita sebaik nya mengetahui
dan memahami tentang kebiasaan, budaya serta adat istiadat setempat, agar tidak
terjadi “misunderstanding” atau kesalahpahaman dengan kebudayaan setempat, dan
yang terpenting juga untuk menghindari “Cultural-Shock” atau “terkejut” dengan
budaya setempat yang jauh berbeda dengan budaya asli kita.
Bicara
tentang “misunderstanding” atau kesalahpahaman, khususnya dalam konteks
kebudayaan, sering kali terjadi dalam berkomunikasi, baik secara verbal maupun
non-verbal antara dua orang atau lebih yang memiliki latar belakang kebudayaan
yang berbeda. Seperti di amerika dan inggris contohnya, merupakan suatu hal
yang di anggap tabu atau tidak sopan ketika kita bertanya tentang umur atau
usia, pekerjaan, gaji, agama serta menanyakan nama seseorang tanpa terlebih
dahulu memperkenalkan diri sendiri, sedangkan di Indonesia hal tersebut
dianggap wajar dan lumrah terjadi.
Dalam hal
perkenalan, terdapat beberapa perbedaan antara budaya perkenalan yang ada di
Indonesia dengan budaya yang ada di barat. Di Indonesia, merupakan hal yang di
anggap biasa ketika kita ingin berkenalan dengan seseorang secara langsung
menanyakan nama dari orang tersebut. Berbeda dengan masyarakat di amerika dan
inggris, ketika ingin berkenalan dengan seseorang, maka harus terlebih dahulu
menyapa dan memperkenalkan diri sendiri, serta menyebutkan nama dengan jelas,
karena ketidakjelasan dalam menyebutkan nama bisa menyebabkan kita dikira
orang yang tidak berterus terang dan cenderung menyembunyikan sesuatu.
begitu juga dengan tatapan mata, jika kita mengalihkan pandangan saat berkomunikasi
atau melakukan perkenalan dengan lawan bicara, akan menimbulkan kesan yang
tidak baik.
Nilai nilai
kekeluargaan
seperti
yang kita tahu, keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar,
bersosialisasi, serta mempelajari nilai-nilai lainnya hingga ia cukup mampu untuk
beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya. seperti nilai pendidikan, sosial,
agama, serta nilai-nilai kekeluargaan lainnya. namun seringkali ada beberapa
orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga mempengaruhi nilai-nilai
kekeluargaan yang menghubungkan secara emosional antara anak dan orang tua.
seperti hal nya di masyarakat Amerika, khususnya para orang tua mengalami
masalah dan tekanan yang berat untuk mengatur antara waktu untuk bekerja dan
waktu untuk keluarga. Selain harus bekerja sambil tetap merawat anak-anak
mereka, tidak sedikit pula yang dihadapkan pada masalah anggota keluarga yang
lanjut usia. Pemerintah Amerika sendiri telah memberikan mandat kepada pelaku
bisnis untuk memberikan fleksibilitas bagi para pekerja nya untuk meredakan
tekanan ini, apalagi kebanyakan orang tua tidak memenuhi syarat dalam program
perawatan anak oleh pemerintah. Pemerintah sendiri belum mampu memberikan
bantuan secara maksimal, sehingga harapannya terletak pada bagaimana pengusaha
memberikan fleksibilitas di tempat kerja dan dukungan lembaga masyarakat atau
organisasi komunitas.
Setidaknya
ada 3 faktor demografi yang memberikan tekanan kuat pada keseimbangan antara
kehidupan dan pekerjaan pada keluarga di Amerika, yakni:
- Banyaknya
ibu-ibu yang masuk ke angkatan kerja mempersulit upaya keluarga untuk
merawat anak-anak mereka;
· - angka perceraian tinggi
dan meningkatnya tingkat kelahiran di luar hubungan nikah menambah tekanan
orang tua tunggal yang bekerja.
· - peningkatan populasi
lanjut usia yang membutuhkan perawatan oleh keluarga yang bekerja.
Faktor-faktor
di atas sendiri didukung adanya makin banyaknya perempuan atau wanita yang
merasa pentingnya mereka berkarir, bagaimana ingin mempertahankan gaya hidup,
dan keinginan untuk menghidar dari kemiskinan. Padahal di-sisi lain anak-anak
atau keluarga seringkali membutuhkan perhatian lebih. Hal ini ditambah dengan
maraknya kegiatan kesetaraan gender dan ‘keharusan’ wanita atau perempuan untuk
bekerja yang mengikis pandangan tradisional dimana wanita mengurus rumah dan
laki-laki yang bekerja. Dan kecenderungan ke depan keseimbangan peran laki-laki
dan perempuan semakin tampak nyata.
Konsep Kekeluargaan
Konsep keluarga di amerika sangat berbeda dengan
negara-negara lain khususnya indonesia .kebanyakan keluarga di amerika terdiri
dari ibu dan ayah dengan rata-rata 1-3 anak. Hal ini sangat umum di kebanyakan
keluarga di amerika bahwa ayah dan ibu keduanya bekerja penuh di tempat kerja
mereka sementara anak-anak mereka di sekolah atau di tempat penitipan anak. ada
banyak keluarga di amerika yang terdiri dari satu orang tua (single parent) dan
anak sebagai hasil dari perceraian atau hubungan di luar nikah.Di dalam
kebanyakan keluarga di amerika ketika anak tumbuh menjadi remaja atau lulus
dari SMA,mereka meninggalkan rumah dan mencoba hidup mandiri. Kebanyakan
keluarga di amerika, dimanapun mereka berada semua akan berkumpul dan merayakan
acara-acara keluarga seperti pernikahan, reuni, ulang tahun, thanksgiving ,dan
hari-hari libur lainnya.
