Rabu, 05 November 2014

Cross-Culture Understanding

Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata Cross-Culture Understanding?   secara otomatis akan timbul pertanyaan seperti “ apa itu Cross-Culture Understanding?”,  “ Bagaimana mempelajari Cross-Culture Understanding itu?”. Nah, disini saya akan sedikit mengupas tentang Cross Culture Understanding.
Berdasarkan apa yang saya pelajari di bangku perkuliahan, Cross-Culture Understanding (CCU) atau Pemahaman Lintas Budaya adalah sebuah studi untuk mempelajari dan memahami kebudayaan atau kebiasaan antar negara yang berbeda, yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman atas perbedaan budaya dan kebiasaan dari negara tersebut.

Mempelajari CCU sangat penting dan sangat berguna bagi kita yang ingin melanjutkan studi, bekerja atau hanya sekedar berwisata keluar negeri. kita sebaik nya mengetahui dan memahami tentang kebiasaan, budaya serta adat istiadat setempat, agar tidak terjadi “misunderstanding” atau kesalahpahaman dengan kebudayaan setempat, dan yang terpenting juga untuk menghindari “Cultural-Shock” atau “terkejut” dengan budaya setempat yang jauh berbeda dengan budaya asli kita.

Bicara tentang “misunderstanding” atau kesalahpahaman, khususnya dalam konteks kebudayaan, sering kali terjadi dalam berkomunikasi, baik secara verbal maupun non-verbal antara dua orang atau lebih yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Seperti di amerika dan inggris contohnya, merupakan suatu hal yang di anggap tabu atau tidak sopan ketika kita bertanya tentang umur atau usia, pekerjaan, gaji, agama serta menanyakan nama seseorang tanpa terlebih dahulu memperkenalkan diri sendiri, sedangkan di Indonesia hal tersebut dianggap wajar dan lumrah terjadi.

Dalam hal perkenalan, terdapat beberapa perbedaan antara budaya perkenalan yang ada di Indonesia dengan budaya yang ada di barat. Di Indonesia, merupakan hal yang di anggap biasa ketika kita ingin berkenalan dengan seseorang secara langsung menanyakan nama dari orang tersebut. Berbeda dengan masyarakat di amerika dan inggris, ketika ingin berkenalan dengan seseorang, maka harus terlebih dahulu menyapa dan memperkenalkan diri sendiri, serta menyebutkan nama dengan jelas, karena ketidakjelasan dalam menyebutkan nama bisa menyebabkan kita dikira orang yang tidak berterus terang dan cenderung  menyembunyikan sesuatu. begitu juga dengan tatapan mata, jika kita mengalihkan pandangan saat berkomunikasi atau melakukan perkenalan dengan lawan bicara, akan menimbulkan kesan yang tidak baik.


Nilai nilai kekeluargaan
seperti yang kita tahu, keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar, bersosialisasi, serta mempelajari nilai-nilai lainnya hingga ia cukup mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya. seperti nilai pendidikan, sosial, agama, serta nilai-nilai kekeluargaan lainnya. namun seringkali ada beberapa orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga mempengaruhi nilai-nilai kekeluargaan yang menghubungkan secara emosional antara anak dan orang tua. seperti hal nya di masyarakat Amerika, khususnya para orang tua mengalami masalah dan tekanan yang berat untuk mengatur antara waktu untuk bekerja dan waktu untuk keluarga. Selain harus bekerja sambil tetap merawat anak-anak mereka, tidak sedikit pula yang dihadapkan pada masalah anggota keluarga yang lanjut usia. Pemerintah Amerika sendiri telah memberikan mandat kepada pelaku bisnis untuk memberikan fleksibilitas bagi para pekerja nya untuk meredakan tekanan ini, apalagi kebanyakan orang tua tidak memenuhi syarat dalam program perawatan anak oleh pemerintah. Pemerintah sendiri belum mampu memberikan bantuan secara maksimal, sehingga harapannya terletak pada bagaimana pengusaha memberikan fleksibilitas di tempat kerja dan dukungan lembaga masyarakat atau organisasi komunitas.
Setidaknya ada 3 faktor demografi yang memberikan tekanan kuat pada keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan pada keluarga di Amerika, yakni:
- Banyaknya ibu-ibu yang masuk ke angkatan kerja mempersulit upaya keluarga untuk           merawat anak-anak mereka;
·    -  angka perceraian tinggi dan meningkatnya tingkat kelahiran di luar hubungan nikah menambah tekanan orang tua tunggal yang bekerja.
·    -  peningkatan populasi lanjut usia yang membutuhkan perawatan oleh keluarga yang bekerja.
Faktor-faktor di atas sendiri didukung adanya makin banyaknya perempuan atau wanita yang merasa pentingnya mereka berkarir, bagaimana ingin mempertahankan gaya hidup, dan keinginan untuk menghidar dari kemiskinan. Padahal di-sisi lain anak-anak atau keluarga seringkali membutuhkan perhatian lebih. Hal ini ditambah dengan maraknya kegiatan kesetaraan gender dan ‘keharusan’ wanita atau perempuan untuk bekerja yang mengikis pandangan tradisional dimana wanita mengurus rumah dan laki-laki yang bekerja. Dan kecenderungan ke depan keseimbangan peran laki-laki dan perempuan semakin tampak nyata.


 Konsep Kekeluargaan
Konsep keluarga di amerika sangat berbeda dengan negara-negara lain khususnya indonesia .kebanyakan keluarga di amerika terdiri dari ibu dan ayah dengan rata-rata 1-3 anak. Hal ini sangat umum di kebanyakan keluarga di amerika bahwa ayah dan ibu keduanya bekerja penuh di tempat kerja mereka sementara anak-anak mereka di sekolah atau di tempat penitipan anak. ada banyak keluarga di amerika yang terdiri dari satu orang tua (single parent) dan anak sebagai hasil dari perceraian atau hubungan di luar nikah.Di dalam kebanyakan keluarga di amerika ketika anak tumbuh menjadi remaja atau lulus dari SMA,mereka meninggalkan rumah dan mencoba hidup mandiri. Kebanyakan keluarga di amerika, dimanapun mereka berada semua akan berkumpul dan merayakan acara-acara keluarga seperti pernikahan, reuni, ulang tahun, thanksgiving ,dan hari-hari libur lainnya.